Minggu, 11 Maret 2018
Elektabilitas NH-Aziz Meningkat Pertanda Sulsel Masih Kandang Golkar
Lembaga Sinergi Data Indonesia (SDI) merilis hasil survei yang menunjukan tren peningkatan elektabilitas pasangan Nurdin Halid dan Azis Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan. Hasil survei terbaru menunjukan, Elektabilitas NH-Aziz mengalami tren kenaikan, meskipun masih kalah dari elektabilitas pasangan Ichsan Yasin Limpo dan Andi Mudzakkar.
“Pasangan yang berpeluang besar menang di Pilgub Sulsel adalah NH-Aziz. Elektabilitas mereka naik yang signifikan dibandingkan tiga pasangan lain,” klaim Direktur SDI Barkah Pattimahu saat rilis hasil survei dan diskusi bertema ‘Peta Kekuatan Capres Di Kandang Golkar : Potret Pilkada Sulsel’ di kantor SDI, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (11/3/2018).
Dari hasil survei ini, elektabilitas Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (Punggawa IYL-Cakka) berada di angka 27,50 persen, disusul NH-Aziz 24,80 persen, Prof. Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (Prof. Andalan) 21,20 persen, dan Agus Arifin Nu’mang-Tanri Bali Lamo (AAN-TBL) 8,9 persen serta suara responden yang belum memutuskan sebesar 17,60 persen.
Dia menyebutkan, elektabilitas Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar justru turun jika dibandingkan hasil survei SDI pada Desember 2017. Saat itu, elektabilitas Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar mencapai 30,30 persen. Hal ini justru berbeda dengan hasil yang diraih oleh NH-Aziz yang dalam survei sebelumnya hanya 22,30 persen dan kini naik menjadi 24,80 persen.
“Sementara, pasangan lainnya, elektabilitas Prof. Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman mengalami sedikit kenaikan dari 20 persen pada Desember menjadi 21,20 persen dan elektabilitas pasangan Agus Arifin Nu’mang-Tanri Bali Lamo relatif stabil,” jelasnya.
Barkah mengatakan, elektabilitas IYL-Cakka menurun diduga ada penolakan publik atas politik kekerabatan atau dinasti di Sulawesi Selatan. Ichsan Yasin Limpo yang merupakan mantan Bupati Gowa sendiri merupakan adik dari Gubernur Sulsel petahana, Syahrul Yasin Limpo.
“Berdasarkan hasil survei, lebih dari separuh atau 62,29 persen responden tidak menyetujui adanya politik kekerabatan atau dinasti di Sulsel dan hanya 23,4 persen yang setuju politik dinasti. Hal ini bisa jadi penyebab menurunnya elektabilitas pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar,” ungkap Barkah.
Lebih lanjut dia mengatakan mayoritas pemilih di Sulsel adalah pemilih rasional sebanyak 50,60 persen, kemudian disusul pemilih sosiologis 26,40 persen, dan pemilih psikologis 19,20 persen.
Barkah menuturkan, peluang Nurdin Halid juga besar untuk menang karena pemilih di Sulsel menginginkan pemimpin dari latar belakang tokoh agama dan pengusaha. Pemilih yang menginginkan pemimpin dari kalangan agama sebesar 29,30 persen dan pengusaha sebesar 18,90 persen. “Pasangan Nurdin Halid dan Azis Qahhar Mudzakkar adalah cermin dari dua latar belakang yang diinginkan oleh pemilih Sulsel,” jelasnya.
SDI menyatakan, surveinya dilakukan di 21 Kabupaten dan 3 kota di Sulsel sejak 14 hingga 20 Februari 2018. Responden dipilih menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah 1.000 responden dengan Margin of error sebesar 3,16 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sumber: Bakubae.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Golkar Luwu Timur Siap Berjuang Menangkan NH-Aziz
Ketua DPD II Golkar Luwu Timur (Lutim), Thorig Husler, menegaskan seluruh kader partai berlambang beringin siap berjuang untuk memenangka...
-
Kepedulian politisi cantik Christiany Eugenia Paruntu terhadap di dunia pendidikan nyiur melambai sudah tak diragukan lagi. Putri sulung ...
-
Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid menyatakan persiapan Rapimnas dan Munaslub Golkar telah rampung 90%. Sementara mengenai mat...
-
Nursyam Halid, Sekjen Pimpinan Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG) mendorong Aziz Syamsuddin menjadi Ketua DPR menggantikan Setya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar